Mengenal Masjid Nabawi: Sejarah & Keutamaannya 2026 - Rahmah Travel
Umroh & Haji

Mengenal Masjid Nabawi: Keutamaan dan Sejarahnya

Pelajari sejarah Masjid Nabawi, keutamaan shalat, Raudhah, makam Rasulullah ﷺ, serta tips beribadah agar umroh di Madinah lebih bermakna. Panduan lengkap dari Rahmah Travel.

DM
Tim editorial Rahmah Travel · PPIU resmi Kemenag RI
Mengenal Masjid Nabawi: Keutamaan dan Sejarahnya
PPIU
Resmi Kemenag RI
IATA
Terdaftar & Terakreditasi
Umroh
Reguler dan Private
9
Pembaca Artikel

Bagi setiap Muslim yang berencana umroh, Masjid Nabawi bukan sekadar titik singgah di itinerary. Ada alasan kuat mengapa jutaan jamaah setiap tahun meluangkan waktu berjam-jam hanya untuk duduk di serambinya, menunggu waktu shalat, atau berharap kebagian giliran masuk Raudhah.

Sayangnya, banyak jamaah yang pulang dari Madinah hanya membawa foto, tanpa benar-benar memahami apa yang mereka lihat. Padahal di balik kubah hijau dan payung raksasa yang ikonik itu, tersimpan perjalanan sejarah lebih dari 14 abad yang membentuk peradaban Islam.

Artikel ini akan mengajak Anda menelusuri sejarah pembangunan Masjid Nabawi dari awal, tahapan perluasannya, hingga keutamaan-keutamaan yang membuatnya begitu dicintai umat Islam di seluruh dunia.

Sejarah Awal Pembangunan Masjid Nabawi

Masjid Nabawi mulai dibangun pada tahun 622 Masehi atau tahun pertama Hijriah, tak lama setelah Rasulullah ﷺ dan para sahabat berpindah dari Makkah ke Madinah. Lokasinya dipilih di sebidang tanah milik dua anak yatim dari Bani Najjar, Sahl dan Suhail, yang sebelumnya digunakan sebagai tempat menjemur kurma.

Rasulullah ﷺ tidak mau menerima tanah itu sebagai pemberian. Beliau membelinya dengan harga yang wajar, meski pemiliknya sempat menawarkan untuk memberikannya secara gratis.

Bangunan awal masjid ini jauh dari kesan megah. Luasnya diperkirakan hanya sekitar 1.050 meter persegi, dengan dinding dari batu bata dan tanah liat, tiang dari batang pohon kurma, serta atap dari pelepah kurma yang disusun rapat. Lantainya pun masih berupa tanah biasa, belum ada mihrab — hanya ditandai tempat Rasulullah ﷺ biasa berdiri untuk memimpin shalat.

Yang membuat pembangunan ini istimewa: Rasulullah ﷺ tidak hanya memerintahkan, tapi turun tangan langsung. Beliau ikut mengangkut batu, mengaduk tanah, dan menyusun fondasi bersama para sahabat. Masjid ini kemudian tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat, tapi juga pusat pemerintahan, tempat belajar agama, lokasi bermusyawarah, hingga penyambutan tamu dan utusan dari berbagai suku.

Perluasan Demi Perluasan: Dari Sederhana Menjadi Megah

Pertumbuhan jumlah umat Islam di Madinah membuat masjid ini beberapa kali harus diperluas — bahkan sejak Rasulullah ﷺ masih hidup.

Perluasan pada masa Rasulullah ﷺ. Pada tahun ke-7 Hijriah, masjid diperbesar menjadi sekitar 50 x 50 meter karena jumlah jamaah yang terus bertambah.

Perluasan era Khulafaur Rasyidin. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Khalifah Umar bin Khattab melakukan renovasi pada tahun 17 H, disusul Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 29 H. Keduanya memperluas area masjid seiring bertambahnya jamaah dari berbagai wilayah kekhalifahan.

Perluasan era Saudi modern. Inilah fase yang benar-benar mengubah wajah Masjid Nabawi. Perluasan pertama era Kerajaan Arab Saudi berlangsung antara 1372–1375 H (1952–1955 M), menambah area sekitar 16.326 meter persegi dan meningkatkan kapasitas menjadi sekitar 28.000 jamaah. Perluasan kedua pada 1406–1414 H (1985–1994 M) mencakup bangunan utama, atap, hingga pelataran sekitarnya, membawa total luas masjid mencapai sekitar 300.000 meter persegi dengan kapasitas mendekati 698.000 jamaah.

Ekspansi terbesar dalam sejarah. Proyek ini dimulai pada 1433 H (2012 M) sebagai bagian dari Perluasan Saudi Ketiga untuk Dua Masjid Suci. Skalanya jauh melampaui perluasan sebelumnya — kapasitas masjid melonjak hingga sekitar 1,6–1,8 juta jamaah, lengkap dengan pelataran luas, koridor lebar, sistem transportasi pejalan kaki yang lebih tertata, serta fasilitas ramah disabilitas.

Transformasi ini menunjukkan satu hal: pemerintah Arab Saudi terus berupaya memastikan setiap jamaah dari seluruh dunia bisa beribadah dengan nyaman, tanpa menghilangkan karakter arsitektur Islam klasik yang menjadi ciri khasnya — kubah hijau, sepuluh menara, dan payung elektrik yang membuka-menutup otomatis mengikuti cuaca.

Raudhah: Taman Surga di Dalam Masjid

Salah satu bagian paling dicari jamaah di Masjid Nabawi adalah Raudhah — area kecil yang terletak di antara rumah Rasulullah ﷺ dan mimbar beliau. Rasulullah ﷺ sendiri menyebut tempat ini sebagai salah satu taman surga.

Karena keistimewaannya, banyak jamaah berusaha keras untuk bisa shalat atau berdoa di area ini, meski harus mengantre lama atau berdesakan. Bukan tanpa alasan — Raudhah dipercaya sebagai salah satu titik paling mustajab untuk memanjatkan doa.

Bagi jamaah yang belum pernah ke Madinah, penting untuk tahu bahwa akses ke Raudhah kini diatur melalui sistem reservasi digital agar lebih tertib dan tidak berdesak-desakan seperti dulu.

Makam Rasulullah ﷺ dan Kompleks di Sekitarnya

Di sisi timur Masjid Nabawi, terdapat kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah Muhammad ﷺ, berdampingan dengan makam dua sahabat terdekat beliau, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Area ini menjadi salah satu titik ziarah paling dihormati oleh jamaah dari seluruh dunia. Aturannya cukup ketat — jamaah diimbau untuk tidak berlama-lama di depan makam, tidak melakukan hal-hal yang menyerupai ritual penyembahan, dan tetap menjaga adab sebagaimana yang diajarkan dalam Islam.

Memahami batasan ini penting supaya kunjungan ke makam Rasulullah ﷺ tetap sesuai syariat, bukan sekadar mengikuti kerumunan.

Keutamaan Shalat di Masjid Nabawi

Ada alasan kuat mengapa jamaah rela menahan kantuk demi shalat lima waktu di Masjid Nabawi. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa satu kali shalat di masjidnya lebih baik daripada seribu kali shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram — hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Bayangkan: shalat subuh satu hari saja di sana setara ganjarannya dengan shalat subuh selama hampir tiga tahun di tempat lain. Ini bukan angka kecil, dan seharusnya menjadi motivasi untuk tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan shalat berjamaah selama berada di Madinah.

Keutamaan lain: Masjid Nabawi adalah salah satu dari tiga masjid yang secara khusus dianjurkan untuk dikunjungi dalam Islam, bersama Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Al-Aqsa di Palestina. Status ini menjadikan Madinah bukan destinasi pelengkap, melainkan bagian penting dari perjalanan spiritual seorang Muslim.

Mengapa Memahami Sejarahnya Membuat Ibadah Lebih Bermakna

Ada perbedaan besar antara jamaah yang sekadar berdiri di depan Masjid Nabawi, dan jamaah yang benar-benar memahami apa yang sedang mereka pijak.

Ketika seseorang tahu bahwa lantai yang ia lewati dulunya tanah tempat menjemur kurma, atau bahwa Rasulullah ﷺ sendiri yang mengangkat batu-batu fondasinya, pengalaman ziarah itu berubah. Bukan lagi sekadar foto untuk media sosial, tapi momen yang menyentuh secara personal.

Inilah kenapa peran pembimbing ibadah menjadi krusial. Sejarah yang dijelaskan langsung di lokasi, bukan hanya dibaca dari buku sebelum berangkat, punya efek yang jauh berbeda pada kedalaman penghayatan ibadah seorang jamaah.

Tips Praktis Berziarah ke Masjid Nabawi

Beberapa hal yang perlu jamaah perhatikan agar kunjungan ke Masjid Nabawi lebih nyaman dan tertib:

  • Datang lebih awal sebelum waktu shalat, terutama saat musim ramai, untuk mendapat tempat yang nyaman dan menghindari desak-desakan.

  • Gunakan aplikasi resmi untuk memantau jadwal dan slot kunjungan ke Raudhah maupun area makam Rasulullah ﷺ.

  • Hindari berkerumun dalam jumlah besar di area masjid dalam waktu lama, karena otoritas setempat menerapkan aturan ketat soal ini demi kelancaran arus jamaah.

  • Jangan membawa atau membentangkan bendera maupun spanduk identitas kelompok tertentu di area masjid.

  • Jaga kondisi fisik tetap prima, mengingat luas kompleks masjid yang sangat besar dan membutuhkan banyak berjalan kaki.

Arsitektur Masjid Nabawi yang Menjadi Ikon Dunia Islam

Selain memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, masjid suci di Madinah ini juga dikenal karena arsitekturnya yang memadukan unsur klasik dan teknologi modern. Salah satu ikon yang paling mudah dikenali adalah Kubah Hijau yang berdiri di atas area makam Rasulullah ﷺ. Kubah tersebut pertama kali dibangun pada masa Kesultanan Mamluk dan kemudian dicat hijau pada era Ottoman hingga menjadi ciri khas yang dikenal umat Islam di seluruh dunia.

Di pelataran masjid, jamaah juga akan melihat payung-payung raksasa yang dapat membuka dan menutup secara otomatis. Payung ini bukan hanya mempercantik kawasan, tetapi juga melindungi jamaah dari teriknya matahari Madinah sehingga aktivitas ibadah menjadi lebih nyaman. Sistem pencahayaan, pendingin udara, hingga jalur pejalan kaki dirancang agar mampu menampung jutaan jamaah setiap tahunnya tanpa mengurangi kenyamanan.

Baca Juga
Artikel Terkait Sejarah Umroh Artikel Terkait Tips Umroh Jamaah Lansia: Panduan Lengkap Ibadah Nyaman
FAQ

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu Raudhah dan mengapa penting bagi jamaah?

Raudhah adalah area di antara rumah dan mimbar Rasulullah ﷺ yang disebut sebagai salah satu taman surga. Banyak jamaah berusaha shalat atau berdoa di sana karena diyakini sebagai tempat yang mustajab.

Berapa kali lipat pahala shalat di Masjid Nabawi dibanding masjid lain?

Berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, satu kali shalat di Masjid Nabawi bernilai lebih baik daripada seribu kali shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.

Apakah boleh berlama-lama di depan makam Rasulullah ﷺ?

Jamaah diimbau tidak berlama-lama di area makam untuk menjaga kelancaran arus pengunjung dan menghindari perilaku yang menyerupai ritual penyembahan, yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Konsultasi Langsung

Masih butuh arahan sebelum memilih paket?

Diskusikan rencana umroh Anda dengan tim Rahmah Travel. Kami bantu cek kebutuhan, jadwal, dokumen, dan pilihan paket yang paling sesuai.