- Awalnya Tidak Ada Kubah Sama Sekali di Atas Makam Rasulullah
- Perjalanan Panjang Sebelum Menjadi Hijau: Putih, Abu-abu, lalu Biru
- Kenapa Warna Hijau yang Dipilih, Bukan Warna Lain
- Bukan Hanya Satu Kubah: Berapa Sebenarnya Jumlah Kubah di Masjid Nabawi
- Detail Arsitektur yang Jarang Diperhatikan Jamaah
- Meluruskan Narasi Keliru Soal Gundukan di Kubah Hijau
- Cara Kerja Kubah Bergerak yang Jarang Diketahui Jamaah
- Lokasi dan Cara Terbaik Menyaksikan Kubah Hijau Saat Ziarah
Setiap jamaah yang datang ke Madinah pasti langsung mengenali satu bangunan ini dari kejauhan — Kubah Hijau Masjid Nabawi, penanda lokasi makam Rasulullah yang jadi ikon paling dikenali dari seluruh kompleks masjid. Tapi di balik warna hijau yang begitu familiar itu, tersimpan perjalanan sejarah yang jauh lebih rumit dari sekadar "kubah yang dicat hijau".
Selama tujuh abad lebih, kubah ini berganti bentuk, bahan, bahkan warna berkali-kali sebelum akhirnya menjadi identitas permanen yang kita kenal sekarang. Banyak jamaah yang berfoto di depannya tanpa tahu bahwa awalnya kubah ini tidak berwarna hijau sama sekali, atau bahwa pernah muncul narasi keliru yang beredar luas soal apa yang sebenarnya ada di baliknya.
Artikel ini mengajak kamu mengenal Kubah Hijau lebih dalam — bukan cuma sebagai latar foto ziarah, tapi sebagai saksi bisu perjalanan panjang bagaimana umat Islam merawat dan menghormati tempat peristirahatan terakhir Rasulullah.
Beberapa fakta yang akan dibahas mungkin belum pernah kamu dengar sebelumnya, termasuk soal simpang siur tahun pengecatan yang jarang diakui terbuka oleh sumber lain, dan detail teknis modern yang justru sering luput dari perhatian jamaah first-timer.
Awalnya Tidak Ada Kubah Sama Sekali di Atas Makam Rasulullah
Ini fakta yang sering terlewat: pada masa Rasulullah masih hidup, bahkan bertahun-tahun setelah beliau wafat, tidak ada kubah apa pun di atas area makamnya. Rasulullah dimakamkan di kamar istrinya, Aisyah, yang letaknya bersebelahan langsung dengan Masjid Nabawi. Bangunan masjid pada masa itu sangat sederhana — dinding dari tanah liat, atap dari pelepah kurma, tanpa hiasan atau struktur megah semacam kubah.
Kamar makam ini kemudian ditutup dengan tembok oleh Umar bin Abdul Aziz saat menjabat gubernur Madinah, sekitar tahun 88 Hijriah, setelah seluruh istri Rasulullah wafat. Barulah beberapa abad kemudian, tepatnya pada masa Kesultanan Mamluk di bawah Sultan Al-Mansur Qalawun sekitar tahun 678 Hijriah atau 1279 Masehi, kubah pertama dibangun di atas area makam ini — terbuat dari kayu dan dilapisi lembaran timah untuk melindunginya dari cuaca.
Perlu waktu hampir enam abad sejak wafatnya Rasulullah sampai kubah pertama benar-benar berdiri di atas area makamnya. Jarak waktu yang panjang ini menunjukkan bahwa kesederhanaan bukan sesuatu yang dianggap kurang pada masanya — justru para sahabat dan generasi awal memang sengaja mempertahankan kesederhanaan bangunan sesuai apa yang dicontohkan Rasulullah semasa hidupnya.
Perjalanan Panjang Sebelum Menjadi Hijau: Putih, Abu-abu, lalu Biru
Warna hijau yang kita kenal sekarang ternyata bukan warna asli kubah ini. Setelah kebakaran besar melanda Masjid Nabawi pada tahun 886 Hijriah, Sultan Qaitbay dari Dinasti Mamluk merenovasi kubah dengan material yang lebih kokoh, yaitu batu bata, dan mengecatnya putih. Struktur ini beberapa kali mengalami retak dan harus dibangun ulang, hingga akhirnya diperkuat kembali pada tahun 892 Hijriah dengan semen putih yang lebih tahan lama.
Kubah kemudian berganti warna menjadi biru tua pada periode berikutnya — beberapa sumber menyebutnya sebagai warna abu-abu kebiruan yang populer di kalangan arsitektur Islam kala itu. Warna hijau baru muncul jauh kemudian, pada masa Kesultanan Utsmaniyah di bawah pemerintahan Sultan Mahmud II atau penerusnya Sultan Abdul Hamid, sekitar abad ke-19.
Simpang siur tahun ini sebenarnya mencerminkan bagaimana proses renovasi kubah berlangsung bertahap selama beberapa dekade, bukan berubah warna dalam semalam. Wajar kalau catatan sejarah dari berbagai penulis mencatat tahun yang sedikit berbeda, tergantung fase renovasi mana yang mereka jadikan patokan.
Kenapa Warna Hijau yang Dipilih, Bukan Warna Lain
Tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan alasan pasti kenapa hijau yang akhirnya dipilih sebagai warna permanen. Yang berkembang di masyarakat adalah pemaknaan simbolis: warna hijau identik dengan pakaian dan dipan-dipan penghuni surga sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an, sekaligus melambangkan ketenangan, harapan, dan kedamaian.
Sebelum dikenal sebagai Kubah Hijau, bangunan ini sempat punya beberapa julukan berbeda dalam catatan sejarah — Al-Qubbatul Baydha yang berarti kubah putih, Al-Qubbatuz Zarqa yang berarti kubah biru, dan Al-Qubbatul Fayha yang berarti kubah luas. Nama-nama ini menunjukkan bahwa identitas kubah ini memang berkembang seiring waktu, bukan ditetapkan sejak awal pembangunannya.
Sejak warna hijau ditetapkan, warna ini dipertahankan secara konsisten hingga sekarang, bahkan sempat muncul wacana mengubahnya menjadi warna perak sekitar tahun 2007 agar selaras dengan kubah-kubah lain di kompleks masjid. Wacana itu tidak pernah direalisasikan, dan Kubah Hijau tetap menjadi identitas permanen yang tidak tergantikan.
Bukan Hanya Satu Kubah: Berapa Sebenarnya Jumlah Kubah di Masjid Nabawi
Banyak jamaah mengira Kubah Hijau adalah satu-satunya kubah penting di Masjid Nabawi, padahal kompleks ini menyimpan lebih banyak kubah dari yang terlihat sekilas dari kejauhan. Setidaknya ada tiga kategori kubah yang perlu dipahami jamaah, masing-masing dengan fungsi yang berbeda.
Kategori pertama adalah kubah ganda yang mungkin belum banyak diketahui: ternyata ada dua lapis kubah tepat di atas makam Rasulullah, bukan cuma satu. Kubah Hijau yang terlihat dari luar adalah lapisan terluar, sementara di bawahnya tersembunyi kubah yang lebih kecil, dibangun sekitar tahun 881 Hijriah sebagai pengganti atap kamar Rasulullah yang dulu sangat sederhana. Struktur berlapis semacam ini jarang disadari jamaah yang hanya melihat dari luar kompleks masjid.
Kategori kedua adalah puluhan kubah putih yang tersebar di seluruh atap Masjid Nabawi, di luar area makam. Di bawah kubah-kubah putih ini adalah area shalat jamaah biasa, bukan area makam. Sebagian kubah putih ini bersifat geser atau retractable, bisa dibuka untuk memasukkan cahaya matahari dan udara segar secara alami ke ruang shalat di bawahnya — mirip fungsinya dengan kubah bergerak di area perluasan yang sudah dibahas sebelumnya, meski desain dan ukurannya berbeda.
Kategori ketiga adalah 27 kubah bergerak berukuran besar di area perluasan modern, yang sudah dibahas di bagian sebelumnya — fungsinya murni untuk sirkulasi udara skala besar, berbeda dari kubah putih yang lebih kecil dan tersebar merata di atap bangunan lama.
Total keseluruhan kubah di kompleks Masjid Nabawi memang sulit dipastikan dengan angka tunggal, karena terus bertambah seiring proyek perluasan yang berjalan dari masa ke masa. Yang jelas, semakin luas masjid ini diperluas untuk menampung jutaan jamaah setiap musimnya, semakin banyak pula elemen kubah yang dibangun untuk mendukung kenyamanan ibadah di bawahnya.
Detail Arsitektur yang Jarang Diperhatikan Jamaah
Dari segi ukuran, berbagai sumber menyebutkan tinggi Kubah Hijau berkisar antara 28 hingga 35 meter, dengan diameter sekitar 18 meter. Perbedaan angka ini kemungkinan besar berasal dari titik pengukuran yang berbeda — apakah dihitung dari dasar bangunan atau dari permukaan tanah, dan apakah termasuk ornamen di puncaknya atau tidak.
Pada puncak kubah terdapat ornamen berwarna emas yang ditambahkan pada masa Sultan Mahmud II sekitar tahun 1813, memberikan sentuhan estetika yang membuat kubah ini semakin mencolok dilihat dari kejauhan. Material yang digunakan juga terus berkembang seiring waktu — dari kayu yang mudah lapuk, menjadi batu bata yang lebih kokoh, hingga akhirnya diperkuat dengan struktur besi pada renovasi-renovasi modern di era Kerajaan Arab Saudi.
Pilar-pilar besar yang menopang kubah dari dalam juga dirancang khusus untuk menahan beban struktur yang sangat berat ini, sekaligus menjaga jarak aman dari area makam di bawahnya. Perawatan berkala terus dilakukan pemerintah Arab Saudi, termasuk pengecatan ulang dan pembaruan lapisan pelindung, untuk memastikan kubah ini tetap kokoh menghadapi cuaca ekstrem Madinah yang bisa sangat panas di siang hari dan cukup dingin saat malam.
Meluruskan Narasi Keliru Soal Gundukan di Kubah Hijau
Ada satu narasi yang pernah viral dan meresahkan banyak orang: kabar bahwa gundukan di bagian Kubah Hijau adalah jenazah seseorang yang diazab karena mencoba mencuri jasad Rasulullah. Narasi ini sepenuhnya tidak berdasar dan telah dibantah berkali-kali oleh para ulama dan sejarawan.
Fakta sebenarnya jauh lebih sederhana. Gundukan yang terlihat itu adalah sebuah celah atau jendela kecil yang berada tepat di atas area makam, bukan jenazah atau bentuk fisik manusia dalam bentuk apa pun. Fungsi celah ini berkaitan dengan struktur bangunan dan sirkulasi, bukan simbol hukuman atau mukjizat seperti yang sempat beredar di masyarakat.
Penting bagi jamaah untuk memahami fakta ini sebelum berangkat, supaya tidak ikut menyebarkan informasi yang keliru atau justru merasa takut tanpa dasar saat melihat langsung Kubah Hijau di lokasi. Pemahaman yang benar justru membuat momen ziarah terasa lebih tenang, bukan diselimuti kecemasan dari informasi yang tidak akurat.
Narasi semacam ini biasanya menyebar cepat karena disertai klaim dramatis yang sulit diverifikasi — seperti cerita seseorang yang mencoba menghancurkan makam lalu tersambar cahaya dari langit. Cerita ini tidak punya sumber yang bisa dipertanggungjawabkan dan sudah dibantah berkali-kali, tapi tetap beredar karena kesan mistisnya yang kuat. Jamaah yang paham asal-usul narasi semacam ini biasanya lebih tenang menghadapi informasi serupa yang mungkin masih beredar di kalangan awam, tanpa perlu ikut menyebarkannya lebih jauh.
Cara Kerja Kubah Bergerak yang Jarang Diketahui Jamaah
Dari ketiga kategori kubah yang sudah dibahas, kubah bergerak di area perluasan modern punya mekanisme kerja yang paling menarik untuk diketahui lebih detail. Kubah-kubah ini punya fungsi yang sama sekali berbeda dari Kubah Hijau — bukan sebagai penanda makam, melainkan sebagai bagian dari sistem sirkulasi udara alami masjid.
Setiap kubah bergerak ini memiliki bobot sekitar 80 ton, namun tetap bisa membuka dan menutup secara otomatis hanya dalam waktu satu menit. Kubah-kubah ini terbuka tiga kali sehari — setelah shalat Subuh, Dzuhur, dan Isya — untuk memastikan sirkulasi udara di dalam masjid tetap terjaga meski dipadati jutaan jamaah setiap musimnya.
Fakta ini yang sering luput dari cerita jamaah first-timer. Kebanyakan hanya fokus mengabadikan Kubah Hijau, padahal sistem kubah bergerak ini adalah salah satu inovasi arsitektur modern yang menunjukkan bagaimana teknologi masa kini beradaptasi dengan kebutuhan ibadah dalam skala yang sangat besar.
Sistem ini jadi solusi praktis mengingat luas Masjid Nabawi yang terus diperluas dari masa ke masa, kini mencapai sekitar 400 ribu meter persegi dan mampu menampung hingga satu juta jamaah dalam satu waktu. Tanpa sirkulasi udara yang efektif, kondisi di dalam masjid akan terasa sangat pengap terutama saat musim haji atau Ramadan, ketika jumlah jamaah melonjak drastis dari hari-hari biasa. Kubah bergerak ini bekerja secara otomatis tanpa perlu campur tangan manual setiap kali dibuka atau ditutup, sehingga operasionalnya tetap efisien meski dilakukan berkali-kali sehari sepanjang tahun.
Lokasi dan Cara Terbaik Menyaksikan Kubah Hijau Saat Ziarah
Kubah Hijau terletak di sisi tenggara Masjid Nabawi, sejajar dengan gerbang As-Salam nomor 315 hingga gerbang nomor 369 dari arah depan. Area di bawah kubah ini adalah lokasi makam Rasulullah, sekaligus dua sahabat utama beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.
Cerita semacam ini juga berlaku untuk Kubah Hijau. Banyak jamaah yang menangis begitu tahu detail sejarah di baliknya, langsung berdiri menatap kubah yang sama yang sudah berdiri lebih dari tujuh abad ini. Momen membaca salam dan shalawat sambil menatap Kubah Hijau sering jadi salah satu pengalaman paling emosional selama ziarah di Madinah, terutama saat jamaah memahami betapa panjang perjalanan sejarah yang membuatnya berdiri seperti sekarang.
Waktu terbaik untuk menyaksikannya biasanya pagi hari, saat area sekitar belum terlalu padat, sehingga jamaah bisa berdiam sejenak tanpa terburu-buru oleh kerumunan yang datang silih berganti sepanjang hari.
Buat jamaah yang datang bersama rombongan besar, ada baiknya menyisihkan waktu khusus terpisah dari jadwal ziarah umum, sekalipun hanya beberapa menit untuk berdiri tenang menatap Kubah Hijau Masjid Nabawi sambil merenungkan perjalanan panjang sejarahnya. Momen semacam ini sering kali lebih berkesan dibanding sekadar berjalan cepat melewati area tersebut di tengah rombongan yang terburu-buru menuju agenda berikutnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa perbedaan Kubah Hijau dengan kubah-kubah lain di Masjid Nabawi?
Kubah Hijau adalah penanda lokasi makam Rasulullah dan bersifat permanen, sementara kubah-kubah lain di kompleks masjid — mulai dari puluhan kubah putih di atap bangunan lama hingga 27 kubah bergerak di area perluasan — berfungsi sebagai sistem sirkulasi udara dan pencahayaan alami.
Sejak kapan Kubah Hijau Masjid Nabawi berwarna hijau seperti sekarang?
Warna hijau baru ditetapkan pada masa Kesultanan Utsmaniyah, sekitar abad ke-19. Sebelumnya kubah ini pernah berwarna putih, lalu biru, sebelum akhirnya dicat hijau dan dipertahankan hingga sekarang.
Masih butuh arahan sebelum memilih paket?
Diskusikan rencana umroh Anda dengan tim Rahmah Travel. Kami bantu cek kebutuhan, jadwal, dokumen, dan pilihan paket yang paling sesuai.