Sunnah yang Dianjurkan Saat Umroh: Panduan Lengkap dari Persiapan hingga Pulang
Sunah yamng dianjurkan Sering luput dari perhatian jamaah yang baru fokus menghafal rukun dan wajib. Padahal justru di bagian inilah kekhusyukan biasanya bertambah.
Rasulullah ﷺ mencontohkan banyak hal kecil sepanjang perjalanan umrohnya. Dari sebelum berangkat sampai kembali ke rumah. Semuanya punya makna, bukan sekadar tambahan.
Bukan beban ibadah. Justru sebaliknya — ini yang membuat rangkaian umroh terasa utuh, bukan sekadar checklist rukun yang dikejar cepat-cepat.
Banyak jamaah sudah hafal rukun dan wajib umroh sebelum berangkat, tapi belum tentu paham betul apa saja sunnah yang dianjurkan saat umroh. Padahal justru di bagian sunnah inilah kekhusyukan sering bertambah — sesuatu yang tidak wajib, tapi kalau dikerjakan dengan pemahaman, pahalanya mengalir dan setiap langkah di tanah suci terasa lebih bermakna.
Rasulullah ﷺ mencontohkan banyak hal kecil sepanjang perjalanan umrohnya, dari sebelum berangkat sampai kembali ke rumah. Memahami sunnah yang dianjurkan saat umroh ini bukan menambah beban ibadah, justru sebaliknya — ini yang membuat rangkaian umroh terasa utuh, bukan sekadar checklist rukun yang dikejar cepat-cepat.
Artikel ini mengurai sunnah tersebut secara berurutan, dari persiapan sebelum ihram sampai tawaf wada, ditambah satu bagian yang jarang dibahas travel lain: bagaimana ketenangan pikiran — termasuk soal koordinasi keluarga besar — ikut menentukan seberapa khusyuk sunnah-sunnah ini bisa dijalankan.
Kenapa Penting Memahami Sunnah, Bukan Cuma Rukun dan Wajib
Rukun umroh ada empat: ihram, tawaf, sa'i, dan tahallul. Kalau salah satu tertinggal, umrohnya tidak sah. Wajib umroh sedikit lebih longgar — kalau tertinggal, bisa diganti dengan dam (denda), tapi umrohnya tetap sah. Sunnah berbeda lagi: tidak membatalkan apa pun kalau terlewat, tapi kalau dikerjakan, nilainya jadi pelengkap yang menyempurnakan ibadah.
Masalahnya, banyak jamaah baru tahu detail sunnah justru saat sudah berada di lapangan, seringkali dari obrolan sesama jamaah yang belum tentu akurat. Akibatnya ada yang memaksakan diri mengejar sunnah tertentu sampai mengabaikan keselamatan, ada juga yang sama sekali tidak tahu sunnah itu ada sehingga momennya lewat begitu saja.
Memahami sunnah yang dianjurkan saat umroh sejak sebelum berangkat membuat jamaah bisa menjalankan ibadahnya dengan tenang — tahu mana yang harus dikejar, mana yang boleh dilepas kalau kondisi fisik tidak memungkinkan, terutama untuk jamaah lanjut usia atau anak-anak yang ikut dalam rombongan keluarga besar.
Sunnah Sebelum Berangkat dan Sebelum Ihram
Sunnah pertama sebenarnya dimulai jauh sebelum kaki menginjak Saudi. Dianjurkan untuk shalat sunnah dua rakaat sebelum berangkat dari rumah, berpamitan dengan keluarga, dan memperbanyak doa keselamatan perjalanan. Momen ini sering dilewatkan karena jamaah sibuk packing di menit-menit terakhir.
Setibanya mendekati miqat, ada beberapa sunnah yang dianjurkan sebelum mengenakan pakaian ihram:
Mandi sunnah, sebagaimana mandi janabah, meski sedang tidak berhadats besar. Mandi ini bukan syarat sah ihram, tapi dianjurkan agar badan bersih sebelum memasuki kondisi ihram yang penuh pembatasan.
Memotong kuku dan merapikan bulu-bulu yang dianjurkan untuk dirapikan, karena selama ihram jamaah dilarang memotong kuku atau rambut sampai tahallul.
Memakai wangi-wangian di badan sebelum ihram — bukan di kain ihramnya — sebagai sunnah yang justru sering disalahpahami banyak orang, sampai ada yang malah menghindarinya karena takut melanggar.
Bagi jamaah lanjut usia yang biasanya butuh waktu lebih untuk persiapan ini, momen sebelum ihram justru jadi kesempatan baik untuk tidak terburu-buru. Pembimbing yang berpengalaman biasanya sudah tahu kapan waktu ideal memulai persiapan, supaya tidak ada anggota keluarga yang keteteran menjelang keberangkatan ke miqat.
Sunnah Saat Ihram dan Perjalanan Menuju Makkah
Setelah niat ihram diucapkan, sunnah paling utama adalah memperbanyak bacaan talbiyah — kalimat "Labbaik Allahumma labbaik" yang terus dilantunkan sepanjang perjalanan menuju Makkah. Talbiyah ini bukan sekadar hafalan, tapi pengingat bahwa perjalanan sedang dalam rangka memenuhi panggilan Allah, bukan sekadar perjalanan wisata biasa.
Rasulullah ﷺ juga mencontohkan untuk memperbanyak doa dan dzikir selama perjalanan, mengingat setiap momen dalam kondisi ihram termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa. Dianjurkan pula memilih pakaian ihram berwarna putih bagi laki-laki, meski warna lain juga tidak membatalkan ihram.
Untuk rombongan keluarga besar yang berangkat multi-generasi, momen di perjalanan ini biasanya jadi waktu yang tepat untuk saling mengingatkan bacaan talbiyah, terutama buat anggota keluarga yang baru pertama kali umroh dan masih gugup dengan rangkaian ibadahnya.
Sunnah Saat Memasuki Kota dan Masjidil Haram
Ada sunnah untuk memasuki Masjidil Haram dengan mendahulukan kaki kanan, membaca doa masuk masjid, dan menuju Ka'bah dengan hati yang tenang tanpa terburu-buru meski suasana di sekitarnya ramai.
Ketika mata pertama kali melihat Ka'bah, dianjurkan untuk berdoa sesuai keinginan, karena momen ini termasuk waktu yang mustajab. Banyak jamaah justru lupa berdoa karena sibuk mengambil foto — padahal momen ini singkat dan tidak terulang persis sama.
Sunnah lain yang dianjurkan adalah mencium Hajar Aswad bila memungkinkan, atau cukup memberi isyarat dari jauh tanpa memaksakan diri berdesakan. Mengingat kepadatan di sekitar Hajar Aswad bisa sangat tinggi, keselamatan jamaah — apalagi yang sudah sepuh atau membawa anak kecil — jauh lebih diutamakan daripada memaksakan sunnah yang berisiko cedera.
Sunnah Saat Tawaf
Saat tawaf, ada sunnah raml, yaitu berjalan lebih cepat dengan langkah-langkah pendek pada tiga putaran pertama, khusus bagi jamaah laki-laki. Sunnah ini dicontohkan Rasulullah ﷺ sebagai bentuk menunjukkan kekuatan fisik saat itu, dan tidak berlaku untuk perempuan.
Selain raml, ada juga sunnah membaca doa tertentu di setiap putaran, terutama doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad yang berbunyi memohon kebaikan dunia dan akhirat. Dianjurkan pula untuk shalat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim setelah tawaf selesai, bila kondisi memungkinkan.
Bagi jamaah yang fisiknya terbatas, raml bukan sesuatu yang wajib dipaksakan. Fokus utama tawaf tetaplah kekhusyukan mengingat Allah selama tujuh putaran, bukan seberapa cepat langkahnya. Banyak pembimbing menyarankan jamaah lanjut usia menggunakan kursi roda resmi yang disediakan di area Masjidil Haram supaya tetap bisa menyelesaikan tawaf dengan nyaman.
Sunnah Saat Sa'i
Saat sa'i antara Shafa dan Marwah, ada sunnah berlari-lari kecil di titik tertentu (bagi laki-laki) yang ditandai dengan lampu hijau di lintasan. Perempuan tidak dianjurkan melakukan ini, cukup berjalan seperti biasa.
lalu dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir sepanjang tujuh kali perjalanan antara dua bukit ini, serta membaca doa khusus saat naik ke Shafa dan Marwah menghadap Ka'bah. Sa'i mengingatkan pada perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya, Ismail AS, sehingga banyak jamaah menjadikan momen ini sebagai renungan tentang kesabaran dan tawakal.
Untuk keluarga yang membawa anak-anak, sa'i biasanya jadi bagian paling menantang secara fisik karena jaraknya cukup panjang dan dilakukan tujuh kali bolak-balik. Di sinilah pentingnya pembimbing yang tahu kapan waktu paling lengang untuk melakukannya, supaya rombongan keluarga tidak kelelahan di tengah jalan.
Sunnah Setelah Tahallul hingga Selama di Makkah
Setelah tahallul dengan mencukur atau memendekkan rambut, ada sunnah untuk memperbanyak ibadah sunnah lain selama berada di Makkah, seperti shalat sunnah di Hijr Ismail, memperbanyak minum air zamzam sambil berdoa, dan memperbanyak tawaf sunnah di waktu-waktu luang selama menginap di Makkah.
Dianjurkan pula memperbanyak dzikir dan doa di waktu-waktu mustajab, seperti sepertiga malam terakhir dan antara adzan dan iqamah. Banyak jamaah menghabiskan waktu luang di hotel untuk istirahat, padahal justru waktu-waktu ini yang paling berharga untuk memperbanyak ibadah sunnah, terutama karena kesempatan berada di dekat Masjidil Haram tidak datang setiap saat dalam hidup.
Sunnah Menjelang Kepulangan: Tawaf Wada
Menjelang kepulangan, ada sunnah tawaf wada sebagai perpisahan dengan Ka'bah, dilakukan sesaat sebelum meninggalkan Makkah. Tawaf ini jadi penutup rangkaian ibadah yang penuh makna, sekaligus pengingat bahwa perjalanan fisik akan berakhir, tapi semangat ibadahnya diharapkan terus berlanjut setelah kembali ke rumah.
Banyak jamaah mengaku tawaf wada jadi momen paling emosional dalam seluruh rangkaian umroh, karena di titik inilah kesadaran bahwa waktu di tanah suci sudah hampir habis benar-benar terasa.
Kenapa Menjalankan Sunnah Butuh Ketenangan Pikiran, Bukan Cuma Hafalan
Ini bagian yang jarang dibahas artikel lain: menjalankan sunnah dengan khusyuk itu susah kalau pikiran jamaah bercabang ke urusan lain — apalagi buat kepala keluarga yang berangkat bersama orang tua, pasangan, dan anak sekaligus.
Realitanya, koordinasi keluarga besar itu rumit. Bukan cuma soal 7 orang yang berangkat, tapi juga 15 orang yang menunggu di rumah — yang terus menelepon menanyakan "sudah sampai mana", "Ibu sehat tidak", "anak-anak gimana". Kalau pikiran kepala keluarga habis untuk membalas chat satu per satu, sulit fokus melafalkan talbiyah dengan hati yang tenang, apalagi menjalankan sunnah yang dianjurkan saat umroh secara utuh.
Karena itu tim kami memisahkan dua grup WhatsApp sejak awal: satu untuk koordinasi rombongan yang berangkat, satu lagi khusus keluarga yang menunggu di Indonesia — dengan izin keluarga tentunya. Update foto dan video lokasi rombongan kami kirim setiap 2-3 jam selama jam aktif di Saudi, plus live location saat perpindahan Mekkah-Madinah, supaya keluarga di rumah tenang tanpa perlu ditelepon berkali-kali.
Respons tim kami di WhatsApp kurang dari 15 menit, 24 jam selama perjalanan, termasuk untuk pertanyaan dari saudara yang di rumah. Kalau ada kejadian tak terduga — misalnya anggota keluarga sempat sakit — kami catat dan laporkan secara tertulis ke kepala keluarga setelah pulang, lengkap dengan rincian biaya dan penanganannya, supaya tidak ada yang mengambang.
Peran Pembimbing Ibadah Bersertifikasi dalam Menjaga Sunnah Sesuai Tuntunan
Banyak jamaah baru tahu detail sunnah justru saat sudah di lapangan, dan di situlah peran pembimbing ibadah jadi penting — bukan sekadar mengingatkan urutan ibadah, tapi juga menjawab pertanyaan yang muncul spontan, seperti "boleh gak sunnah ini dilewati kalau capek" atau "gimana kalau lupa baca doa di titik tertentu".
Pembimbing kami bersertifikasi dan sudah berpengalaman puluhan kali mendampingi jamaah ke tanah suci, jadi penjelasan yang diberikan bukan sekadar teori dari buku, tapi berdasarkan kondisi nyata yang sering dihadapi jamaah di lapangan — termasuk bagaimana menyesuaikan sunnah untuk jamaah lanjut usia atau anak-anak tanpa mengurangi maknanya.
Menutup Rangkaian Sunnah dengan Pemahaman, Bukan Sekadar Ikut Rombongan
Memahami sunnah yang dianjurkan saat umroh sejak sebelum berangkat membuat setiap tahap perjalanan terasa lebih utuh — dari mandi sunnah di rumah, talbiyah di perjalanan, raml saat tawaf, sampai tawaf wada sebagai penutup. Semua ini bukan formalitas, tapi cara agar ibadah yang dijalankan benar-benar mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ, bukan sekadar mengikuti apa yang dilakukan jamaah lain di sekitar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa bedanya rukun, wajib, dan sunnah dalam umroh?
Rukun kalau ditinggalkan membuat umroh tidak sah. Wajib kalau ditinggalkan tetap sah tapi harus bayar dam. Sunnah tidak ada konsekuensi apa pun kalau tertinggal, hanya kehilangan pahala tambahan.
Apakah orang tua lansia wajib melakukan raml saat thawaf?
Tidak wajib. Raml adalah sunnah yang bisa ditinggalkan tanpa mengurangi keabsahan thawaf, terutama untuk jamaah yang kondisi fisiknya tidak memungkinkan.
Masih butuh arahan sebelum memilih paket?
Diskusikan rencana umroh Anda dengan tim Rahmah Travel. Kami bantu cek kebutuhan, jadwal, dokumen, dan pilihan paket yang paling sesuai.